Jumat, 06 September 2013 - 08:47:41 WIB
Ahmad Tohari. Kita Hidup di Jaman yang Benar Benar Edan
Diposting oleh : Administrator
Kategori: Sejarah & Budaya - Dibaca: 2003 kali

Orang lebih mengagumi Harta, Tahta dan Wanita dibanding kekagumannya kepada Tuhan.

Ungkapan istilah Jaman Edan muncul pada jaman Raden Ngabei (RNg.) Ronggo Warsito seorang pujangga pada jaman Majapahit yang hidup sekitar tahun 1800-an. Sebagai pujangga keraton, RonggoWarsito menulis Sinom dalam Serat Kalatida bab 8 yang berjudul Amenangi Jaman Edan yang syairnya sebagai berikut.

Amenangi jaman edan ewuh aya ing pambudi
Melu edan ora tahan
Yen tan melu anglakoni baya kaduman melik.
Kaliren wekasanipun
Dillalah kersaneng Allah
Sabeja-bejane wong kang lali
Luwih beja kang eling lan waspada.

Yang apabila diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia kurang lebih berbunyi:

Mengalami jaman gila-serba repot dalam bertindak
Ikut gila tidak tahan
Jika tidak ikut berbuat gila tidak memperoleh bagian milik
Namun dari kehendak Allah
Seuntung-untungnya orang yang lupa diri,
Masih lebih bahagia orang yang ingat dan waspada

Kemudian gubahan ini diakhiri dengan sebaris gatra yang ber-sandiasma dari pujangga Ronggowasito itu. Tokoh yang hidup pada masa kasunanan Keraton Surakarta tersebut adalah pujangga besar yang telah meninggalkan warisan tak terhingga berupa serat yang mempunyai nilai dari capaian estetika menakjubkan.

Ketekunannya pada sastra budaya, teologi serta ditunjang bakat mendudukan ia sebagai pujangga terakhir keraton Surakarta. Serat Kalatida yang mengungkap tentang Amenangi Jaman Edan ini. Dari pihak Kasunanan Surakarta hingga saat ini menyatakan bahwa jaman edan yang ditulis oleh Ki. Ronggo Warsito itu adalah suatu ramalan, bahwa kelak akan datang suatu jaman yang disebut jaman edan.

Tentang apa itu jaman edan dan aktualisasi dari Serat Kalatida itu, penulis sengaja berbincang dengan budayawan kondang yakni Ahmad Tohari di kediamannya, di desa Tinggarjaya kecamatan Jatilawang Banyumas Rabu 28 Agustus 2013.

Dalam bincangan santai yang terfokus pada Serat Kalatida yakni Amenangi Jaman Edan itu, ia bertutur bahwa itu hanyalah menurut pendapat dari pihak kasunanan.

“Namun dari kalangan ilmiah menurut teori sastra, hal itu mencerminkan sesuatu yang dialami oleh pengarangnya sendiri. Apalagi tulisan itu bukan merupakan futuristik seperti misalnya dulu ketika orang bercerita tentang roket namun roket itu belum ada. Itu berarti suatu tulisan ilmiah atau futuristik. Atau tentang kemajuan teknologi yang sudah diprediksi sebelumnya.” ujarnya.

Sedang karya Ki RonggoWarsito tentang jaman edan ini,  bukanlah suatu ramalan namun jaman edan sesungguhnya.Yaitu suatu kondisi atau keadaan pada saat itu  yang diperhatikannya. Ki Ronggo Warsito saat itu melihat apa  yang terjadi di sekitar kasunanan Surakarta. Edannya apa? Di sekitar kasunanan Surakarta para priyayinya sendiri saat itu melakukan perbuatan yang edan-edan (gila-gilaan), berupa minum-minuman keras, berjudi dan main perempuan. Mereka berdansa dansi dan gendakan (mesum) antara orang pribumi Jawa dan orang Belanda.

“Itulah yang dilihat oleh Ronggowarsito yang menurutnya sebagai suatu tindakan yang  saat itu dianggap perilaku edan. Karena dilakukan oleh para pemimpinan yang seharusnya menjadi contoh, maka ia menyebutnya sebagai jaman sudah edan,” ujarnya.

Karena Ronggo Warsito adalah seorang santri, maka ia tidak tahan melihat kondisi seperti itu. Kegundahannya itu kemudian diungkapkan dalam bentuk karya sastra yang disebut Sinom Kalatida. Para sejarawan berpendapat bahwa yang membuat ke-edan-an baik di kasunanan Surakarta maupun Jogjakarta adalah VOC.

Sebab perbuatan yang disebut edan oleh Ronggo Warsito itu yang mensponsori adalah VOC. Saat itu  VOC berkewajiban memberikan kompensasi atas fasilitas kasunanan  dan kasultanan yang dipergunakannya sebesar 100 ribu ringgit pertahun.

Namun liciknya VOC, kompensasi 100 ribu ringgit tersebut lebih banyak diberikan dalam bentuk kegiatan pesta dan berfoya-foya. Itulah asal muasalnya muncul istilah jaman edan.

Kini benar-benar Jaman Edan

Ahmad Tobari berpendapat bahwa seperti apa yang selama ini dipublikasikan di berbagai media masa.  Para pejabat baik eksekutif, legislatif hingga yudikatif  dan penegak hukum mulai dari hakim, jaksa,  polisi dan pengacara sudah runtuh mentalnya.

Seperti yang diungkapkan oleh mantan Ketua Mahkamah Konstitusi. “Bagaimana keadilan bisa terwujud kalau mental penegak hukumnya sudah runtuh.” ujarnya prihatin. Kini banyak pejabat yang sudah masuk daftar hitam dan segera diusut oleh KPK.

Lebih edan lagi Lapas Narkoba justru dijadikan ‘pabrik’ sabu-sabu. Lapas dijadikan pusat trasaksi dan peredaran narkoba. Mereka dengan leluasa mengendalikan dari dalam lapas meski berstatus tahanan maupun pembinaan alias hukuman.

Hal yang mengherankan lagi ada petugas Lapas yang mengaku tidak tahu apa kegiatan mereka. Apa artinya ada petugasnya kalau sampai ada hal-hal yang sangat membahayakan dan menjatuhkan citra hukum di negeri kita itu mereka tidak tahu.Tak heran jika opini masyarakat menilai jika oknum pejabat kita ini sudah rusak.

Eling.

Saat ini kita benar-benar hidup dalam jaman edan. Saya ingin bertanya dan harus bertanya. Apa yang menyebabkan masyarakat khususnya yang terkait dengan penegakkan hukum  mentalnya menjadi rusak? Kalau saya bilang ini ekstrim karena disebabkan mereka sudah meninggalkan watak dasar kita yaitu eling, ujar Ahmad Tohari  budayawan yang tengah sibuk bersama tim,  menyusun  buku terjamah Al Quran dalam bahasa Banyumasan yang diselenggarakan oleh Departemen Agama Republik Indonesia ini.

Eling apabila dijabarkan secara luas dan dalam lanjutnya,  maka sebenarnya sudah ada dalam sila-sila pada Pancasila. Eling kepada Tuhan, Eling terhadap kemanusiaan, Eling kepada keadilan, Eling terhadap musyawarah dan Eling terhadap kebangsaan.

Kata eling ini menjadi kunci. Kita semestinya selalu eling atau ingat,  karena kita hidup dalam falsafah yang tidak sekuler yakni falsafah yang percaya kepada Tuhan Yang Maha Esa. Karena tidak eling itulah maka jaman edan ini terjadi dan tidak eling inilah yang menjadi biang keladinya.

Kepercayaan kepada Tuhan sudah luntur. Karena Tuhan sudah digantikan oleh substansi yang lain. Kita saat ini sangat mengagumi sesuatu yang sebenarnya tidak perlu dikagumi. Karena kekaguman kita ini hanya untuk Tuhan.

Namun yang terjadi saat ini banyak orang lebih mengagumi sesuatu yang tidak perlu dikagumi yakni berupa barang wadag atau fisik yakni Harta, Hahta dan Wanita. Banyak orang yang mengatakan ber Ketuhanan Yang Maha Esa, namun sebenarnya mereka lebih tergila-gila kepada Harta, Tahta dan Wanita. Kekagumannya itu melebihi dibanding kekagumannya kepada Tuhan.

Kita sudah tidak eling lagi karena gencarnya godaan berupa harta tahta dan wanita yang diprofokasi oleh perkembangan ekonomi yang sangat materialistik. Ekonomi yang sedang menguasai bangsa kita ini bukan ekonomi berkeadilan atau bukan ekonomi Pancasila. Bukan ekonomi seperti yang dulu yang diatur oleh Pasal 33 ayat 23 UUD 1945 yang ternyata sudah diamanendemen sehingga ekonomi kita adalah ekonomi kapitalis.

Ekonomi kapitalis menurut Ahmad Tohari adalah ekonimi yang tidak peduli dengan masalah keadilan. Kondisi seperti itu bisa membuat pejabat yang memiliki kewenangan bahkan sebagai penegak hukum karena kekagumannya terhadap harta tahta dan wanita melebihi kekagumannya kepada Tuhan akhirnya mereka menghalalkan cara demi pemuas kekaguman yang keliru itu.

Padahal jika seseorang mau hidup tenteram satu-satunya kunci adalah eling. Karena apabila seseorang sudah eling maka Tuhannya hanya Allah,  Tuhan Yang Maha Esa tidak ada Tuhan selain Allah. Oleh karenanya untuk mengembalikan kepada jatidirinya orang Indonesia yang Pancasialis ini adalah bagimana kita kembali kepada eling atau ingat kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Menurutnya pengamatannya, ramainya orang melakukan peribadatan ternyata juga bukan jaminan untuk mengembalikan keyakinannya kepada Tuhan dalam hati mereka. Saat ini ibadah hanyalah sebatas upacara ritual dan formalitas semata sehingga Tuhan tidak kembali kepada hati manusia. Dan posisinya digantikan oleh trinitas yakni Harta, Tahta dan Wanita. (Saring Hartoyo)




Pengirim :
Website : -



91 Komentar :

Obat Tradisional Penyempitan Jantung
20 Desember 2013 - 10:07:15 WIB

Informasi yang sangat bermnfaat sekali, Terimakaish ya udah berbagi informasi :)
Obat Ambeien Herbal
14 Desember 2013 - 10:15:29 WIB

Penyusunan artikel dan informasi menarik pak / bu. Terimakasih
Ace Maxs
13 Desember 2013 - 10:55:39 WIB

Terimakasih infonya gan
Obat Penyakit Gula
10 Desember 2013 - 15:39:22 WIB

Artikel Dan Penyusunan Kata" nya Menarik. Terimakasih infonya Juragan
Obat Radang Tenggorokan
10 Desember 2013 - 13:23:59 WIB

Informasi menjadi insfirasi ku. terimakasih gan
Obat Tradisional Kista Ginjal
09 Desember 2013 - 15:09:20 WIB

Terima kasih informasinya.
Semoga sukses :)
Obat Herbal Asam Urat
07 Desember 2013 - 14:58:22 WIB

Mencoba yang positif lebih baik
Obat Herbal Kolesterol
29 November 2013 - 15:36:41 WIB

Terimakasih atas informasinya gan
Obat Darah Rendah
28 November 2013 - 15:41:57 WIB

Terima kasih informasinya :)
Tetap semangat untuk berkarya :D
obat penyakit kanker prostat
27 November 2013 - 21:14:10 WIB

met malem
informasinya yang anda sampaikan sangat bagus dan isinya penting. makasih

http://goo.gl/1xvyAR
<< First | < Prev | 1 | 2 | 3 | 4 | 5 | ... | 10 | Next > | Last >>
Isi Komentar :
Nama :
Website :
Komentar
 
 (Masukkan 6 kode diatas)

 

[ X ] Close


IKLAN BARIS GRATIS
Silahkan kirimkan materi Iklan Anda melalui email ke : redaksi@mediaobsesi.com. Apabila peminat melebihi kuota, penayangan akan dibatasi berdasar kebijakan admin.
Format : Judul, Link website, Deskripsi 50 character.